Fenomena Double Texting, Tanda Perhatian atau Justru Terlihat Menuntut? -->

Header Menu


Fenomena Double Texting, Tanda Perhatian atau Justru Terlihat Menuntut?

Hilma Putri Pratama
Sabtu, 16 Agustus 2025

 


Sterilnews.com -, Jakarta – Di era komunikasi serba cepat, chat menjadi sarana utama untuk membangun koneksi, baik secara personal maupun profesional. Namun, muncul satu kebiasaan unik yang semakin sering ditemui: double texting, yaitu mengirim pesan kedua sebelum pesan pertama dibalas.


Fenomena ini kerap memunculkan perdebatan, apakah double texting bisa dianggap sebagai tanda perhatian, atau justru menunjukkan sikap terlalu menuntut?


Apa Itu Double Texting?


Mengutip Verywell Mind, double texting adalah tindakan mengirimkan dua atau lebih pesan secara berurutan tanpa menunggu respons dari pesan sebelumnya. Praktik ini biasanya muncul dalam percakapan lewat aplikasi pesan instan, baik dengan teman, pasangan, maupun rekan kerja.


Alasannya beragam, mulai dari antusiasme berlebihan, rasa cemas karena tidak kunjung mendapat jawaban, hingga kebutuhan untuk menambahkan informasi yang dirasa belum tersampaikan.


Contoh yang Sering Terjadi


Situasi double texting sebenarnya sering dialami dalam keseharian. Misalnya ketika seseorang menunggu konfirmasi janji bertemu, lalu merasa perlu mengirim pesan lanjutan. Ada pula yang mengirim pesan kedua karena sadar informasi di chat pertama kurang lengkap.


Namun, tak jarang dorongan itu muncul dari rasa gelisah. Ketika pesan tak kunjung dibaca atau dibalas, sebagian orang merasa perlu menanyakan ulang hanya demi kepastian.


Psikologi di Balik Double Texting


Menurut CalmSage, kebiasaan ini erat kaitannya dengan kondisi emosional. Saat respons tidak segera datang, otak cenderung mencari alasan—yang sering kali berujung pada overthinking.


Selain itu, double texting bisa merefleksikan kebutuhan seseorang untuk tetap terhubung secara emosional. Penundaan balasan kadang dianggap sebagai bentuk penolakan, meski faktanya bisa jadi lawan bicara hanya sibuk.


Kapan Waktu Tepat untuk Double Texting?


Dalam konteks profesional, mengirim pesan tindak lanjut atau follow-up dianggap wajar, bahkan sopan, jika dilakukan setelah rentang waktu tertentu. Misalnya setelah satu hari kerja.


Namun, dalam komunikasi personal seperti PDKT atau obrolan santai, timing jadi hal yang sangat penting. Sebaiknya beri jeda waktu satu hingga dua jam agar tidak terlihat mendesak.


Dampak Negatif Jika Berlebihan


Meski terkesan sepele, double texting yang dilakukan terlalu sering bisa menimbulkan kesan negatif. Lawan bicara bisa menganggap pengirim terlalu menuntut, tidak sabaran, atau kurang percaya diri.


Lebih jauh lagi, kebiasaan ini bisa memperburuk kondisi mental pengirim. Saat pesan kedua juga tidak dibalas, rasa cemas meningkat dan memicu stres yang sebenarnya tidak perlu.


Cara Bijak Melakukannya


Jika memang harus melakukan double texting, gunakan bahasa yang ringan dan sopan. Hindari kalimat bernada menekan atau menyalahkan. Misalnya, ganti “Kenapa belum balas?” dengan kalimat lebih ramah seperti “Hei, sekadar mengingatkan soal rencana besok ya .”


Selain itu, membangun kesepakatan komunikasi sejak awal juga penting. Misalnya saling memahami bahwa tidak semua pesan bisa langsung dibalas.


Alternatif Selain Double Texting


Saat tergoda untuk mengirim pesan kedua, alihkan perhatian sejenak. Menonton film, membaca buku, atau menyibukkan diri dengan aktivitas lain bisa membantu menurunkan rasa cemas.


Pada akhirnya, double texting bukanlah sesuatu yang salah mutlak. Yang terpenting adalah konteks, situasi, dan sikap empati. Jika dilakukan dengan tepat, justru bisa menunjukkan perhatian dan kepedulian dalam komunikasi.


Tag Terpopuler