STERILNEWS.COM -, BOGOR – Di tengah maraknya tren third wave coffee atau kopi gelombang ketiga, yang mengedepankan cita rasa murni dari biji kopi single origin, kopi sachet seringkali dianggap kelas dua. Namun benarkah kopi kemasan instan itu tak layak disebut sebagai kopi sungguhan?
Faktanya, stigma tersebut tidak sepenuhnya benar. Dalam kunjungan tim detikfood ke pabrik kopi milik PT Bumi Boga Laksmi di Kabupaten Bogor, terungkap bahwa proses pembuatan kopi sachet ternyata tidak sembarangan. Bahkan, biji kopi yang digunakan pun berasal dari hasil panen petani lokal dan melalui proses quality control yang ketat.
Kopi Sachet vs Kopi Instan, Apa Bedanya?
Perlu diketahui, kopi sachet dan kopi instan bukanlah produk yang sama walaupun sama-sama dikemas. Kopi instan dibuat melalui proses yang lebih kompleks, seperti pembuatan espresso skala industri. Cairan kopi tersebut lalu dikeringkan dengan teknologi freeze dry atau spray dry hingga menjadi bubuk yang tidak menyisakan ampas.
Sementara itu, kopi sachet merupakan istilah umum untuk berbagai jenis kopi kemasan—mulai dari kopi tubruk murni, kopi instan, hingga kopi 2in1 dan 3in1 yang sudah dicampur dengan gula dan krimer. Produk ini lebih dikenal masyarakat karena praktis dan bisa dinikmati siapa saja, di mana saja.
“Banyak yang menyamakan kopi sachet dengan kopi instan, padahal tidak selalu begitu. Bahkan kopi tubruk pun bisa dikemas dalam bentuk sachet,” ujar Yudha, perwakilan dari PT Bumi Boga Laksmi.
Proses Produksi yang Tidak Sederhana
Walau tampak sederhana, perjalanan secangkir kopi sachet sangat panjang. Di PT Bumi Boga Laksmi, setiap biji kopi hijau (green bean) terlebih dahulu dipanggang (roasting) sesuai kebutuhan rasa—baik medium roast maupun dark roast. Proses ini dilakukan dengan standar tinggi karena pabrik telah mengantongi sertifikat ISO22000, HACCP, GMP, Halal, dan izin dari BPOM.
Setelah pemanggangan, kopi didiamkan sejenak untuk “bernapas” dan menstabilkan aromanya. Kemudian kopi digiling dan melewati proses pencampuran dengan gula, krimer, atau bahan tambahan lain—tergantung varian produk yang ingin dibuat. Namun sebelumnya, setiap batch kopi yang diolah harus lulus uji laboratorium: mulai dari pengujian warna, kadar air, hingga uji rasa melalui proses cupping.
“Semua tahapan dijaga higienis dan sesuai standar. Tak ada yang asal-asalan,” tegas Yudha.
Biji Kopi Lokal, Bukan ‘Reject’
Salah satu stigma yang kerap melekat pada kopi sachet adalah penggunaan biji kopi yang disebut-sebut sebagai hasil sortir alias biji kopi reject. Hal ini pun dibantah oleh pihak pabrik.
“Pemilihan biji kopi sangat tergantung pada jenis produk yang ingin dibuat. Kalau untuk kopi sachet ya memang kualitasnya beda dengan specialty coffee, tapi bukan berarti tidak layak konsumsi,” jelas Yudha.
Setiap harinya, pabrik ini memproduksi hingga 17 ton kopi yang seluruhnya berasal dari biji kopi lokal Indonesia—mulai dari Lampung, Toraja, hingga Bajawa. Menurut Yudha, anggapan bahwa kopi sachet dibuat dari bahan murahan sangatlah keliru.
Ia mengibaratkan perbedaan ini seperti memilih daging untuk steak dan bakso. Daging wagyu tentu ideal untuk steak, namun daging biasa pun tetap layak dijadikan bakso. “Yang penting bukan soal tinggi rendahnya kualitas, tapi cocok tidaknya untuk jenis produk dan tujuan konsumsinya,” tambahnya.
Akar Budaya Minum Kopi di Indonesia
Sejarah mencatat bahwa masyarakat Indonesia sejak dahulu sudah terbiasa mengonsumsi kopi berkualitas sederhana. Bahkan pada era kolonial, kopi kualitas terbaik diekspor oleh pemerintah kolonial, sementara rakyat hanya menikmati sisa sortir yang disangrai dan diseduh secara tradisional.
Kebiasaan ini terus berlanjut hingga kini. Kopi sachet menjadi bagian dari budaya minum kopi masyarakat Indonesia—praktis, murah, dan dapat dinikmati oleh semua kalangan.
“Bukan berarti kita anti pada third wave coffee atau kopi specialty. Tapi kita juga tidak bisa menghilangkan kebiasaan yang sudah mengakar selama ratusan tahun. Maka keduanya harus berjalan beriringan,” ucap Yudha.
Pasar yang Besar, Selera yang Beragam
Dengan lebih dari ratusan juta peminum kopi di Indonesia, menurut Yudha, tidak adil jika kita menyudutkan kopi sachet hanya karena bukan termasuk golongan ‘kopi elit’.
Setiap orang punya preferensi rasa yang berbeda. Ada yang menyukai kopi murni tanpa gula, ada pula yang lebih suka varian manis dengan krimer. Oleh karena itu, industri kopi di Indonesia harus inklusif, menjangkau semua segmen.
“Kalau kita ingin industri kopi Indonesia naik kelas, itu tidak bisa hanya dengan mengandalkan kopi specialty. Kita harus rangkul semua lapisan, termasuk penggemar kopi sachet. Ini kerja besar dan butuh kolaborasi semua pihak,” tutup Yudha.
Kesimpulan: Kopi Sachet Tetap Punya Tempat
Meski kerap dipandang sebelah mata, kopi sachet memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Dibuat dari biji kopi asli, melalui proses yang higienis dan terstandar, kopi sachet bukan hanya sekadar minuman praktis, tapi juga bagian dari identitas budaya minum kopi Indonesia.
Jadi, tak perlu ragu lagi. Menyesap kopi sachet bukan berarti tidak menghargai kopi berkualitas. Karena pada akhirnya, soal kopi adalah soal selera—dan selera, seperti kata Yudha, tidak bisa diperdebatkan.