Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026: “Cincin Api” Tak Terlihat dari Indonesia -->

Header Menu


Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026: “Cincin Api” Tak Terlihat dari Indonesia

Nia
Jumat, 13 Februari 2026

Wikimedia Commons/Kevin Baird


JAKARTA – Fenomena langit spektakuler akan terjadi pada 17 Februari 2026, yakni gerhana matahari cincin atau annular solar eclipse. Dalam peristiwa ini, Matahari akan tampak seperti dikelilingi lingkaran cahaya terang yang dikenal sebagai “cincin api”.


Namun, sayangnya, fenomena tersebut tidak dapat disaksikan dari Indonesia.


Jalur Gerhana Melintasi Antartika


Gerhana matahari cincin pertama pada tahun 2026 ini jalurnya melintasi wilayah Antartika dan Samudra Selatan. Wilayah yang dapat menyaksikan fase cincin secara penuh sebagian besar berada di kawasan paling selatan Bumi.


Sementara itu, gerhana parsial hanya dapat diamati dari:

  • Ujung selatan Amerika Selatan

  • Afrika bagian selatan

  • Sebagian Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia

  • Sebagian besar wilayah Antartika


Karena jalurnya sangat selatan, Indonesia tidak termasuk dalam area pengamatan, baik fase cincin maupun parsial.


Apa Itu Gerhana Matahari Cincin?


Gerhana matahari cincin terjadi ketika Bulan berada terlalu jauh dari Bumi (mendekati apogee), sehingga ukuran tampaknya lebih kecil dibandingkan Matahari. 


Akibatnya, Bulan tidak mampu menutupi piringan Matahari sepenuhnya.


Alhasil, bagian tepi Matahari masih terlihat sebagai lingkaran cahaya terang yang membentuk efek visual dramatis—disebut “ring of fire” atau cincin api.


Berbeda dengan gerhana total, pada gerhana cincin Matahari tidak pernah sepenuhnya tertutup. Karena itu, pengamatan tetap memerlukan pelindung mata khusus sepanjang fenomena berlangsung.


Lokasi Terbaik Pengamatan


Gerhana cincin ini terutama akan diamati dari stasiun penelitian di Antartika, di antaranya:

  • Stasiun Penelitian Concordia (Prancis–Italia)

  • Stasiun Mirny

  • Stasiun McMurdo


Di Stasiun McMurdo, misalnya, gerhana akan terlihat dalam fase parsial mendalam dengan sekitar 86 persen piringan Matahari tertutup Bulan.


Waktu Terjadinya (UTC)


Dalam waktu internasional (UTC), rangkaian gerhana berlangsung sebagai berikut:

  • Mulai parsial: 09.56 UTC

  • Puncak gerhana: 12.12 UTC

  • Berakhir: 14.27 UTC


Total durasi fenomena mencapai sekitar 271 menit. Pada puncaknya, Matahari tertutup hingga 96 persen, sementara fase “cincin api” berlangsung sekitar 2 menit 20 detik.


Detail Astronomi


Gerhana ini terjadi sekitar 6,8 hari setelah Bulan mencapai apogee, yakni titik terjauhnya dari Bumi. Saat puncak gerhana, posisi Matahari berada di konstelasi Aquarius.


Secara teknis, gerhana ini memiliki magnitudo 0,9630 dan merupakan bagian dari siklus Saros 121—gerhana ke-61 dari total 71 gerhana dalam rangkaian tersebut.


Tidak Terlihat di Indonesia


Meski tidak bisa disaksikan langsung dari Indonesia, gerhana matahari cincin 17 Februari 2026 tetap menjadi peristiwa astronomi penting. 


Fenomena ini menunjukkan bagaimana dinamika orbit Bulan dan Bumi menghasilkan variasi gerhana yang berbeda-beda di setiap wilayah.


Intinya, “cincin api” kali ini hanya dapat dinikmati dari Antartika dan wilayah selatan Bumi, sementara Indonesia harus menunggu fenomena gerhana berikutnya yang melintas di kawasan Nusantara.

Tag Terpopuler